Rabu, 06 Maret 2013

NILAI – NILAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN ETIKA PROFESI


NILAI – NILAI DAN HUBUNGANNYA
DENGAN ETIKA PROFESI
A.   Pengertian Nilai Sosial Budaya
            Pengertian kebudayaan : berasal dari bahasa sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Istilah lain dari kebudayaan adalah Culture (Inggris).Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.(Soerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi, hal 188-189). Inti kebudayaan setiap masyarakat adalah sistem nilai yang dianut oleh masyarakat pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Sistem nilai tersebut mencakup konsepsi-konsepsi abstrak tentangapa yang dianggap buruk “harus dihindari” dan apa yang dianggap baik “harus selalu diikuti” (Soerjono Soekanto, Pengantar Sosiologi. Hal. 208). Sistem nilai tersebut perlu lebih dikongkritkan kedalam norma-norma, yang dapat dijadikan patokan atau pedoman dalam berperilaku secara pantas : Norma moral, norma hukum, norma sopan santun.
Ada beberapa pengertian tentang nilai / value, yaitu sebagai berikut :
1) Sesuatu yang baik, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang berharga, sesuatu yang bermanfaat, dan menurut kodratnya bersifat positif (K. Bertens).
2) Secara umum : sesuatu yang berharga, keyakinan yang dipegang sedemikian rupa oleh seseorang sesuai dengan tuntutan hati nuraninya.(pengertian secara umum);
3) Seperangkat keyakinan dan sikap pribadi seseorang tentang : kebenaran, keindahan, dan penghargaan terhadap suatu pemikiran, obyek atau perilaku yang berorientasi pada tindakan dan memberikan arah serta makna bagi kehidupan seseorang (Simon, 1973)
4) Keyakinan seseorang tentang sesuatu yang berharga, kebenaran atau keyakinan mengenai ide-ide, objek atau perilaku khusus (Czimowski,1974)
5) Pilihan bebas, keyakinan atau sifat yang menetap mengenai penghargaan terhadap sesuatu : pribadi, benda, ide, atau tindakan. (Barbara Kozier, Glenora Erb, Kathleen Blais.P.87)
Setiap perawat memiliki nilai dan perilaku pribadi masing-masing.Kode etik profesi membawa perubahan perilaku personal kepada perilaku professional dan menjadi pedoman bagi tanggungjawab perorangan sebagai anggota profesi dan tanggungjawab sebagai warga Negara. Tanggungjawab professional berdasarkan anggapan bahwa profesi keperawatan bekerja sama dengan kelompok asuhan kesehatan (kelompok asuhan yang di maksud adalah profesi dokter, ahligizi, tenaga farmasi, tenaga laboratorium, kesehatan lingkungan,dsb) untuk meningkatkan kesehatan, mengurangi penderitaan, dan menemukan pencapaian tujuan berdasarkan kebutuhan manusiawi. Setiap perawat harus bertanggungjawab kepada seseorang yang sakit maupun sehat, keluarganya, dan masyarakat.
Tanggungjawab ini memerlukan pelaksanaan etika yang berkaitan dengan peraturan yang relevan dengan keperawatan. Tanggungjawab ini antara lain:
1.      Perawat melaksanakan pelayanan dengan menghargai derajat manusia, tidak membedakan kebangsaan.
2.      Perawat melindungi hak pasien/klien, kerahasiaan pasien, melibatkan diri hanya terhadap hal yang relevan dengan askep.
3.      Perawat mempertahankan kompetensinya dalam praktik keperawatan, mengenal dan menerima tanggungjawab untuk kegiatan dan keputusan yang akan di ambil.
4.      Perawat melindungi pasien/klien bila keperawatan dan keselamatannya diganggu oleh orang-orang yang tidak berwenang, tidak etis, atau tidak legal.
5.      Perawat mempertimbangkan orang lain dengan kriteria tertentu apabila akan mendelegasikan tugas atau menunjuk seseorang untuk melakukan kegiatan keperawatan.
6.      Perawat berpartisipasi dalam kegiatan riset bila hak individu yang menjadi subjek dilindungi.
7.      Perawat berpartisipasi dalam usaha profesi untuk meningkatkan standar taktik dan pendidikan keperawatan.
8.      Perawat bertindak melalui organisasi profesi, berperan serta dalam mengadakan dan mempertahankan kondisi pekerjaan yang memungkinkan kualitas asuhan keperawatan yang tinggi.
9.      Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan dan orang lain dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
10.  Perawat menolak tawaran untuk subjek advertensi atau promosi komersial.
            Kode etik keperawatan ditanamkan kepada para perawat sejak dalam pendidikan keperawatan.Sekolah keperawatan bertanggung jawab atas pemilihan calon-calon perawat yang mampu melaksanakan kode etik. Tanggung jawab lain sekolah keperawatan adalah membuatkondisi yang memungkinkan bagi peserta didik untuk mengaplikasikan kode etik. Pengajar dan staf sekolah membantu peserta didik untuk mengetahui perilaku yang dapat diterima dan dikembangkan sebagai perilaku perawat.
B. Cara Pembentukan/ Pembelajaran Nilai.
1) Memberi contoh/ teladan tingkah laku yang dapat diterima orang lain.
2) Meyakinkan dengan membujuk atau memberi motivasi.
3) Pendidikan budaya/ kultural dan agama.
4) Memberikan kesempatan atau memilih secara bertanggung jawab.
5) Menetapkan peraturan
6) Memberikan ganjaran hal yang baik/ benar dan hukum untuk hal yang tidakbaik/ salah.
Ciri-ciri nilai adalah sebagai berikut :
1) Nilai bersifat pribadi dan berkembang dari pengalaman.
2) Nilai-nilai membentuk dasar perilaku seseorang.
3) Nilai-nilai nyata dari seseorang diperlihatkan melalui pola perilaku yangkonsisten.
4) Nilai-nilai menjadi kontrol internal untuk perilaku seseorang.
5) Nilai-nilai mempunyai komponen intelektual dan emosional.
Macam-Macam Nilai :
1) Nilai Personal : adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh masing-masing individuyang merupakan internalisasi dari beberapa atau semua nilai-nilai yangdipelajari dan diterima dari nilai-nilai yang ada. Nilai-nilai tersebut dipelajari di rumah sejak kecil oleh anak-anak serta berkembang sepanjang kehidupannya.
Contoh :Kejujuran, Keterbukaan, Kemandirian, Menghargai orang lain, Rasa humor, Waktu senggang, Teliti, Perhatian, Religius, Cinta, Damai, Keindahan, Tanggung jawab.
2) Nilai Sosial Budaya : adalah nilai-nilai yang dimiliki dan diterima oleh sebagian terbesar masyarakat dan berlaku dimasyarakat yang bersangkutan.
Contoh :Kehidupan, hak-hak individu, Otonomi, Kebebasan, Kekuasaan, Kesehatan,Kekayaan, Pendidikan, Kenyamanan, Belas kasih, Keadilan, Kesopanan,Ramah.
3) Nilai Profesional : adalah nilai-nilai yang seharusnya dimiliki dan diterima oleh semua anggota profesi yang bersangkutan.
Contoh : untuk profesi keperawatan nilai yang mendasar/pokok/utama adalah “Caring”. Kurtz dan Warry (1991) mengemukakan bahwa “caring” dapat merupakan pengobatan/ penyembuhan.
Nilai profesional sering merupakan cerminan dan pengembangan dari nilai-nilai personal. Perawat memperoleh nilai-nilai profesional ketika ia bersosialisasi dalam keperawatan dari (kode etik, pengalaman merawat, pendidik/pembimbing, dan sesama perawat). Secara garis besar “Watson” mengemukakan empat nilai penting yang perludalam perawatan yaitu :
1) Komitmen yang kuat terhadap pelayanan.
2) Meyakini dan menghargai martabat setiap pribadi.
3) Komitmen terhadap pendidikan.
4) Otonomi
6. Nilai-nilai Esensial Perawat Profesional :
(Essensial Of college and University Education For professional Nursing (1986), Washington DC. American Assosiation Of College Of Nursing) mengemukakan nilai-nilai profesional sebagai berikut:
1)      Aesthetics : Menciptakan sesuatu yang indah/menarik yang dapat memuaskan dan menyenangkan klien/orang lain.
·         Sikap/Kualitas kepribadian : Appreciation : menghargai orang lain dengan keindahan/ hal-hal yang menarik/menyenangkan.
Contoh : Menyesuaikan lingkungan sehingga menyenangkan klien.
·         Sikap/Kualitas kepribadian : Creativity : kreatifitas menciptakan suatu hal yang menarik/menyenangkan.
Contoh : Menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
2)       Altruism : Kepedulian terhadap kesejahteraan atau keselamatan orang lain
·         Sikap/kualitas pribadi : Caring : semangat untuk membantu/ menolong orang lain dengan penuh kasih saying.
Contoh : Memberikan perhatian penuh kepada klien saat mermberikan pelayanan keperawatan.
3)      Equality : memperlakukan klien tanpa diskriminasi (sama hak, sama kehormatan ataupun tidak membedakan status individu).
·         Sikap/ kualitas pribadi : Acceptance : menerima orang lain apa adanya
Contoh : Memberikan pelayanan keperawatan berdasarkan pada kebutuhan klien tanpamempedulikan karakteristikindividu.
4)       Freedom : Kemampuan dan kebebasan untuk melakukan pilihan
·         Sikap/kualitas pribadi : Independence : memiliki kemandirian untuk memutuskan hal yang baik untuk orang lain.
Contoh : Mendukung diadakannya diskusi terbuka tentang masalah-masalah yang kontroversial dalam profesi.
5)      Human Dignity : menghormati/ menghargai martabat dan hak klien sebagaiindividu yang unik.
·         Sikap/kualitas pribadi : Consideration : perhatian terhadap kebutuhan orang lain.
Contoh : Melindungi hak individu untuk mendapatkan privasi.
Nilai etis yang mendasari praktek keperawatan tidak selalu merupakan bagian dari sistem nilai personal perawat.Oleh karena itu perawat perlu terus belajar untuk menjadi peka terhadap perasaan dan kebutuhan pasien.


C. Pertentangan Nilai
Dengan berubahnya lingkup praktek keperawatan dan teknologi medis, maka tanggung jawab keperawatan dapat menimbulkan konflik dengan nilai-nilai personal/pribadi perawat, misalnya :
·         Atasan membutuhkan bantuan aborsi terapeutik, akan tetapi hal ini bertentangan dengan nilai-nilai personalnya.
·         Memperpanjang kehidupan pasien yang tidak responsive menggunakanmesin.
·          Tidak memasukkan darah karena keyakinan agamanya.
·         Tidak membantu melakukan KB dengan cara sterilisasi atau penggugurankarena keyakinan agamanya.
Dengan kemajuan IPTEK, terjadinya konflik semakin tinggi, untuk itu perlumelakukan klarifikasi nilai.
D.  Klarifikasi Nilai
Klarifikasi nilai adalah : proses dimana individu mengidentifikasi, menguji dan mengembangkan nilai individu mereka sendiri. Dengan klarifikasi nilai, seseorang dapat meningkatkan pertumbuhan pribadi melalui perkembangan kesadaran, empati dan wawasan.Teori klarifikasi dikembangkan oleh (Raths, Harmin dan Simon pada tahun 1978). Proses klarifikasi nilai meliputi komponen : kognitif, afektif dan perilaku yang ditunjukkan dengan tiga kegiatan utama yaitu : memilih, menghargai dan bertindak.
E. Membantu Klien Mengidentifikasi Nilai.
1) Buat daftar alternatif tindakan dan segala konsekuensinya. Tanyakan pada pasien apakah pasien sudah mempertimbangkan cara tindakan lainnya ?
2) Periksa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi dari pilihan tersebut. Tanyakan keuntungan apa yang diperoleh dengan pilihan tersebut..
3) Pilihlah secara bebas. Tanyakan : Apakah ada yang ingin anda katakana sehubungan dengan pilihan tersebut ? apakah anda sudah punya pilihan ?
4) Merasa baik, tenang, mantap dengan pilihannya. Tanyakan bagaimana perasaan pasien setelah menentukan pilihannya, apakah ia merasa pilihannya baik, tenang, dan mantap?
5) Tegaskan pilihan tersebut. Tanyakan, apa yang akan dikatakan kepada orang lain (keluarga, teman) tentang pilihannya itu.
6) Bertindaklah atas dasar pilihan itu. Untuk menguji apakah klien sudah siap bertindak dengan keputusannya itu, tanyakan : Apakah keputusannya itu sulit dikatakan kepada isterinya/ suaminya/ orang tuanya ?
7) Bertindak dengan suatu pola dan konsisten. Untuk mengetahui apakah klien bertindak secara konsisten atau tidak, tanyakan : Berapa kali pasien telah melakukan, dan bagaimana tindakan selanjutnya ?
F. Hubungan Sosial Budaya dengan Etika Profesi
Salah satu bentuk kongkrit dari sistem nilai yang dijadikan norma bagi masyarakat profesi adalah “Kode Etik Profesi”. Kode Etik Profesi, merupakan pedoman dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam Kode Etik merupakan bagian dari nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat. Nilai-nilai social budaya yang sesuai dan perlu untuk tetap dilaksanakan antara : ramah, baik hati, dapat dipercaya, tanggung jawab, cakap dan terampil, gotong royong/kerjasama, saling menghormati terutama kepada yang lebih tua, baik dalam usia, pengalaman, pendidikan maupun kedudukan dalam masyarakat. Penghormatan kepada orang lain dengan sopan santun misalnya dengan : mendahulukan mereka untuk lewat, memberi tempat duduk, memberi kesempatan berbicara lebih dahulu, mengucapkan salam, dan ucapan terima kasih pada setiap jasa sekecil apapun. Kebiasaan-kebiasaan tersebut berlaku tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Negara lain seperti Asia, Eropa, dan Amerika.Nilai-nilai sosial budaya yang sesuai dengan etika Profesi tersebut diharapkan oleh masyarakat untuk tetap dimiliki, diwujudkan dalam perilaku para perawat profesional dalam melaksanakan tugasnya.Dimanapun perawat profesional tersebut bertugas melaksanakan asuhan keperawatan, disitu pulalah perawat juga perlu menjunjung dan menghormati nilai-nilai sosial budaya yang ada di masyarakat setempat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar